Terimakasih untuk Dua Bulan Ini Sayang

Kisah dua makhluk bernyawa…
“Sayang,  sayang, sayang, “kupanggil namamu. Sahutan tak kudengar. Bahkan sayuppun tak ada. Aku menolak putus asa.

.
Datang seorang wanita paruh baya. Menujuku berdiri yang sedang memanggilmu.
“kenapa si sayang? Kulihat menghijau pantatnya, ” wanita itu berujar padaku.
“oo di rumah amak,  si sayang mak? ”
” ialah biar saya jemput, “ujarku tanpa menghiraukan kata kata amak yang tinggal di sebelah rumahku.
.
Rumah mak hanya 20 langkah bolak balik rumahku. Disitu kulihat si sayang tak sedikitpun menoleh ke arahku.
.
Aku tahu dengan bokong yang sakit bukanlah mudah utk melangkah pulang baginya. Kubopong saja sayang semampuku.
.
Tak sampai hatiku melihatnya merintih tak bersuara. Hanya menundukkan wajahnya. Gairahnya hilang hanya sekejap saja. Aku ingat peristiwa hari itu. Kurang dari 3 jam. Si sayang yang dulunya periang, kini tak sanggup bergerak.
.
Aku kehabisan ide. Sayang mengapa kau tak ingin kupegang?
Sayang apa aku salah padamu? Bahkan kau tak berujar. Terakhir kuusapkan obat cair itu ke bokongkmu. Aku harap itu bisa jadi penyembuhmu.
.
Benar. Benar benar manjur obat itu. Tak berselang kuobati kau sayang. Kau malah jalan beringsut. Tetap dengan wajah tertunduk. Menuju tepian aspal. Kutanya kau hendak kemana. Berdesispun kau tidak. Tatapmu masih nanar. Aku paham. Kau sakit. Bukan karna tingkahku. Tapi karna pedihnya obat yang kuoleskan itu.

Tapi sayang aku tak ingin memaksamu. Ku biarkan kau mengambil jalanmu. Aku yakin kau akan berbalik padaku. Diwaktunya. Tapi sayang. Sejak tepian jalan yang kau tapaki itu terakhir kali. Meskipun aku tak bisa bertanya kepadamu langsung tentang kabarmu, hanya pada orang yang lalu di depan rumahku. Hanya pada mereka aku tanyakan keadaanmu sayang.

Masih disanakah kau?
Masih tertundukkah kau. Sudah hilangkah hijau hijau di bokongmu.aku tahu orang orang itu tak kan tahu. Tapi aku hanya ingin tahu sayang.
.
Sayang jika aku boleh berandai.
.
Ah berandai itu tak baik…
.
Aku tahu
.
Tapi bagaimana aku tak berandai
.
Hanya dua bulan waktu kita bersama.
.
Kau datang tak pernah kuduga
.
Kau pun tak sengaja menyapa
.
Tapi itulah suratannya.
.
Kita sama sama suka
.
Tapi kenapa hanya sesingkat itu saja?
.
Aku tidak akan pernah tau jawabannya
.
Tapi terimakasih untuk dua bulan nya sayang
.
Kuharap itu cukup berkesan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s