Yakin Aja Dulu

images (3)“iin kapan wisudanya? ”
aku tertunduk. Lidahku kelu. Otakku seperti larutan yang lagi di blender. Putar kenceng banget. Tapi dengan mantap aku memjawab.
” Agustus 2016, doakan yo* bu yah, ” *dalam logat minang

Itu kali pertama aku belajar keyakinan.

Keyakinan identik dengan agama. Tapi kali ini bukan keyakinan seperti itu yang ingin aku utarakan.

Is something that  you not thought enough but you sure it would be true.  sebuah kekuatan jiwa tak terlihat dimana kamu percaya, gak ragu akan hal tertentu. Keyakinan itu seperti itu menurutku.

Saat aku menjawab pertanyaan orangtuaku. Jujur kali pertamanya aku ragu. Mungkin karena takut. Takut tak bisa kubuktikan kata kata itu. Lantas mereka kecewa.

Awalnya meski aku ingat janji wisudaku. Aku setengah setengah menjalani penelitian. Semangat banget ya enggak. Tapi ya aku tetap ke labor.  Tetap revisi skripsi.  I know my target is graduate. But i dont remember the time. No time management. Sampai suatu ketika.

Disudut ruangan. Tak terkena langsung sinar mentari sore itu. Wanita berkacamata tebal. Mungkin lebih dari 0,4 cm. ia tertunduk. Bukan malu. Bukan juga pilu. Sedang asik dirinya. Mematuk ujung alat labor yang kecil bak pipet itu dengan jemarinya. Yak dia sedang memperjuangkan tambahan 4 huruf dibelakang namanya. Gelar sarjana.

Tahukah kamu?  saat itu adalah libur nasional. Kampus sepi. Kecuali hanya manusia tahan banting. Yang setia mengisi daftar hadir. Bukan untuk bukti bahwa ia rajin. Tapi demi merampungkan penelitian. Dan wisuda. Yang mungkin juga sudah dijanjikannya untuk orang tuanya. Dan ia ada disana saat itu seorang diri. Sebelum akhirnya aku yang setengah rajin dan setengah malas ini datang.

Dia tak pernah berujar apapun tentang keyakinan padaku. Apalagi terang terangan menyemangatiku tentang keyakinan. Tapi usahanya. Gigihnya. Semangatnya berbicara.  Pagi pagi sekali ia adalah mahasiswa penanti bus kampus yang paling pagi operasi hari itu. Jika aku sudah sampai di labor, dia sudah menghabiskan hampir lebih sejam waktunya sebelum aku mulai. Ia hanya absen duha disetiap pms nya. Dan banyak lagi jatuh bangunnya dia yang tidak bisa kuutarakan disini. Intinya Jujur aku kagum.

Dari wanita yang suaranya cempreng ini jugalah aku belajar. Bahwa keyakinan kamu yang akan mendorong dirimu. Untuk menyelesaikan tahap tahap. Yang kata orang yang belum melaluinya sulit.

Sejak saat itu. Entah itu rasa iri atau motivasi. Aku seolah mengikuti iramanya. Mulus ataupun ada kerikil selama penelitian,  aku coba untuk jalanin. Yang penting maju aja terus. Karena targetnya adalah waktu. Kalau waktu yang ada sudah kuperjuangkan dengan usaha, tapi hasilnya beda. Berarti itu takdirku yang berbicara.

Pucuk dicinta ulampun tiba. Pribahasa lama yang bilang. Tapi aku gak tau maknanya. Wkwkwk. Ya singkatnya jawaban singkat ditelpon itu terbukti. Ayah Ibu beneran berangkat ke Padang di bulan dan tahun itu sesuai janjiku. Menyaksikan aku menjemput gelar.

Jadi. Besok besok kalau ada impian kayaknya aku harus ingat ingat lagi cara yakin ini. Supaya lebih pool usahanya.

Peringatan!

Resep ini baru berlaku untuk keyakinan mengejar skripsi.  Kalau kamu mau coba untuk meraih mimpi lainnya dengan resep ini,  jangan ragu untuk berbagi.  I’ll glad to know it.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s